Terlalu banyak yang tidak mengenal diri sendiri. Seisi kota bangun. Pun Aku, dengan nasib sepasang kaki. Memar, hampir lumpuh jalannya.
Hari ini, dimana kaki ini berpijakAku ingin menghujam ruang rindu yang bodohnya telah aku bangun sendiri. Sampai tidurku yang menjadi korban, berulang kali kehilangan bagiannya.
Pada suatu hari nanti, dimana kaki ini berpijakAku tidak ingin takut yang meraksasa ini membuat kau jauh.
Saat esok hujan lebat, dimana kaki ini berpijakAku cuma ingin menepi, lalu kau ku doakan, pada jalan-jalan basah serta pada gerimis di tiap-tiap helai rambutku.
Pada penghujung sore yang akan datang, dimana kaki ini berpijakKau senja yang aku tidak tahu menamainya apa. Merona, memerah, dan selalu pergi.
Pada salah satu dari sekian malam, dimana kaki ini berpijakAku ingin lekas tertidur diantara bait-bait purnama. Memejam, mendekap, Lalu direbahkan oleh kau.
Sampai aku selesai di kemudian hari, dimana kaki ini berpijakKubayangkan tubuhmu disini, di antara malam-malam yang telah lalu, di antara rindu-rindu yang tidak pernah malu.
Malam ini berbulan
Tapi tidak seutuh kau.
