Dia ingin jadi apapun yang kau takutkan.
Dimana tak berharap banyak.
Jika teringat, sesegera mungkin dilupakan.
Katanya, dimana masih ada malam, tampaknya kerisauan ini akan kembali lagi. Tolong hapus aku dalam kita. Karena bangun pagiku akhir-akhir ini selalu menyisakan rasa yang sia-sia. Semoga dengan segala ingatan, tidak mengacaukan apa yang telah aku puisikan. Dan selepas ini, aku ingin kembali melihatmu tanpa rasa. Menghapus resah pada tiap bibir yang bicara. Melepas diam yang selama ini gugup, mengucap kata yang masih terdengar gagap.
Pada suatu hujan, Dia kembali teringat, atas puisi yang dibuatnya. Pada selembar yang putih. Dibacakannya pada ranting-ranting yang merindu pada angin. Akar-akar yang menanti akan hujan. Dalam bait-bait sajak ini, kau juga sedang di doakan. Sampai malam bertambah malam, sampai tidak lagi mengenal pagi.
Jika dulu kau bertanya apa yang membuatnya suka pada hujan?
Adalah jalan-jalan basah dan matanya yang berair.
