Malam itu penyair bisu.
Sampai hampir pagi aku lupa memulai tidur.
Pandanganku kabur.
Ketakutan macam apa yang sedemikian ini.
Di ujung sebuah gang, seorang anak kecil menangis. Tepat ketika itu, jeritannya tak terdengar. Sama sekali. Tetapi tiap matanya berlumur cemas, tatapannya kosong. Ujung-ujung tangannya mengulai lesu. Kakinya patah, pun harapannya.
Aku berlari menuju beranda rumah. Kuraba seluruh badan, seisi kepalaku. Apa juga ada kecemasan?
--
Ingin kutemui lagi anak kecil itu. Kusimak tiap geraknya. Segalanya.
--
Aku datang. Sudah sepagi ini. Kiranya dia telah pulang. Rupanya tak ada yang berubah. Sebisa mungkin aku tidak ingin menambah setumpuk cemas yang sedang dia alami. Di depannya aku mengusap air mata. Pelan-pelan perih itu larut. Takut. Aku ingin pergi. Sampai lirih dibibirnya berbisik.
"Kita sama, sama-sama tidak sanggup menahan cemas."
