Ini adalah bagian yang tidak pernah aku mau.
Semoga saja akhir dari ini tidak begitu menyedihkan.
Sehingga nanti, aku masih dapat membacanya
Tanpa sesal, pun pilu.
Beberapa waktu kedepan aku banyak berkeinginan, mencoba untuk keluar, melihat-lihat apa yang lebih menghibur dari diamku selama ini. Sebelum ini benar-benar menjadi sangat jauh atau tidak terlihat lagi, aku ingin kita mengingat segala yang pernah saling mempercayai. Karena mulai saat ini dan pada waktunya nanti, aku ingin juara dalam orang-orang yang dapat menghibur diri sendiri, penuh dengan segala maaf, dan mengharapkan apapun.
Semoga dalam keadaan yang sama-sama belumpernah kita ketauhui nanti, kita dapat mengucapkan maaf bersamaan.
karena akan ada akhir tanpa permintaan
aku kelelahan,
lalu berakhir seperti ini.
Ada orang menikmati api hanya untuk memperhangat keadaan.
Lalu di seberang jalan itu,
rinduku adalah abu yang diterbangkan angin.
Kau, sempat menjadi debar saat jantung telah lama kehilangan detak. Sekacau ini. Dari segala yang ada, aku datang dengan kata yang hancur, sampai pada akhir yang semua masih sama. Hari ini yang kutemui hanya rasa sesal. Mungkin esok, rasa sesal yang menemuiku.
Ternyata semesta lebih pandai memilih
Tentang segala kemungkinan,
kau akan memilih dan sama sekali bukan aku
Dan sumpah, tangis ini melipat-lipat seribu kalimat seisi badan.
kau akan memilih dan sama sekali bukan aku
Dan sumpah, tangis ini melipat-lipat seribu kalimat seisi badan.
Malam itu penyair bisu.
Sampai hampir pagi aku lupa memulai tidur.
Pandanganku kabur.
Ketakutan macam apa yang sedemikian ini.
Di ujung sebuah gang, seorang anak kecil menangis. Tepat ketika itu, jeritannya tak terdengar. Sama sekali. Tetapi tiap matanya berlumur cemas, tatapannya kosong. Ujung-ujung tangannya mengulai lesu. Kakinya patah, pun harapannya.
Aku berlari menuju beranda rumah. Kuraba seluruh badan, seisi kepalaku. Apa juga ada kecemasan?
--
Ingin kutemui lagi anak kecil itu. Kusimak tiap geraknya. Segalanya.
--
Aku datang. Sudah sepagi ini. Kiranya dia telah pulang. Rupanya tak ada yang berubah. Sebisa mungkin aku tidak ingin menambah setumpuk cemas yang sedang dia alami. Di depannya aku mengusap air mata. Pelan-pelan perih itu larut. Takut. Aku ingin pergi. Sampai lirih dibibirnya berbisik.
"Kita sama, sama-sama tidak sanggup menahan cemas."
Malam ini dibawah naungan luna,
rasa kami masih samar-samar ada dalam pandangan semunya.
Semenjak tahu bagaimana kabarmu
Maka aku perlu kembali menulis, bukan?
Sesekali memang perlu keras kepala, bukan?
Beberapa kopi terteguk,
terjaga.
Semoga aku punya kata lebih baik lagi buatmu.
rasa kami masih samar-samar ada dalam pandangan semunya.
Semenjak tahu bagaimana kabarmu
Maka aku perlu kembali menulis, bukan?
Sesekali memang perlu keras kepala, bukan?
Beberapa kopi terteguk,
terjaga.
Semoga aku punya kata lebih baik lagi buatmu.



